SYUKUR

•30 November 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Yakinku,

Wahai sahabat,
Saat kita masih bisa tersenyum bersama,
berkumpul bersama,
Saat kita selalu mencari dan mencuri kesempatan untuk bisa bertemu,
agar dapat tertawa bersama,
bercanda dan berbagi rasa,
untuk merasakan bahwa hidup ini adalah milik kita,
sedangkan mereka bukan siapa-siapa.

Kita tak memikirkan beban-beban kehidupan,
hari-hari ceria penuh senyuman,
tanpa himpitan.

Yang kita tahu hanya, membelanjakan setiap kiriman yang diberikan Ayah dan Bunda,
tanpa kita pernah tahu atau tak mau tahu sama sekali,
bagaimana orangtua berusaha mendapatkannya untuk kita……..

Sudahkah kita berterima kasih pada beliau?

Sudahkah kita bahagiakan beliau?

Sudahkah kita memberikan bukti atas pengorbanan beliau?

Sudahkah kita temui beliau untuk memberikan senyuman termanis dari bibir kita?

Sudahkah kita damaikan jiwa beliau dengan wajah ceria yang kita tunjuk ketika menjumpai beliau?

Adakah kita lakukan semua itu dengan senang hati?

Sudahkah kita mengirimkan doa-doa indah special untuk Ayah dan Bunda?

Karena bukan materi yang beliau minta,

tiada balasan yang beliau harap,

hanya beliau pinta,

jadilah anak soleh/solehah….

yang selalu mendoakan beliau,

hingga nanti beliau tiada lagi,

Kini, disaat kita telah berpisah,
mengharungi jalan hidup masing-masing,

Aku baru menyadari,
ternyata tak selamanya kita bersama,
ada waktunya kita berpisah,
melanjutkan langkah kaki sesuai petunjuk Ilahi,
untuk kita jalani.

Aku mulai menggerakkan kaki menyusuri jalan ini,
yang kadang mendaki, menurun, berkelok atau lurus (tanpa tikungan),
begitu pula dengan dirimu.

Wahai sahabat,
mari kita teruskan langkah ini,
walau  berbeda jalan,
semoga nanti kita berjumpa di ujung pemberhentian,
dalam senyuman yang lebih ceria lagi,
dan masa-masa indah itu kan hadir kembali,
suatu hari nanti….

TIAP-TIAP YANG BERJIWA AKAN MERASAKAN MATI.

•22 November 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

kepala apa ini.....?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” Surat Al Anbiya` (35).

Pada ayat diatas Allah Ta`ala memberitakan bahwa selama kita masih hidup di dunia, pasti akan menemui tiga perkara yang sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah), yaitu:
1. Mati
2. Diuji dengan keburukan
3. Diuji dengan kebaikan

Sebelum sunnatullah yang dalam bentuk kematian datang memutus kehidupan seseorang didunia, maka ia akan terus ditimpa oleh dua sunnatullah yang lainnya secara silih berganti, yaitu ujian dalam betuk kebaikan dan ujian dalam bentuk keburukan (musibah).

Alhamdulillah, kita diwarisi oleh Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam Al Qur`an dan Assunnah sebagai sebagai pedoman hidup. Dimana dua pedoman hidup tersebut disusun langsung oleh sang pencipta kehidupan itu sendiri dan Dzat yang paling mengerti seluk beluk dan rahasia kehidupan yakni Allah Ta`ala melalui utusanNya Nabi Muhammad Shalallahu `Alayhi wa Sallam. Diantara kandungan Al Qur`an dan Assuunnah ini, terdapat sebuah pedoman yang akan membimbing siapapun orang yang mengimani keduanya (kaum mukminin) agar dalam setiap sunnatullah (musibah dan kesenangan) tersebut selalu dalam keadaan beruntung (berpahala). Dengan kata lain selama ia masih hidup di dunia ini, maka ia akan selalu beruntung baik ketika berhadapan dengan musibah atau dengan kesenangan. Oleh karena itu kita perlu mempelajari kembali Alqur`an dan Assunnah dalam masalah ini, agar kita dapat menyikapi setiap ujian-ujian tersebut dengan sikap yang tepat.
Suatu ketika Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap keadaan kaum mukminin.
Sebagaimana yang ditegaskan oleh beliau Shallallahu `Alalyhi Wasallam dalam sabdanya:

”Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat, ia bersikap sabar, maka itu menjadi baik baginya.”(HR.Muslim)

Dalam hadits diatas, Rasulullah Shalallahu `alayhi wasallam memberitakan bahwa bagi seorang mukmin, baik didalam kesenangan maupun musibah, tetap ada peluang untuk beruntung (berpahala).

1.Ujian dalam bentuk kebaikan. Dalam ujian model ini ada kewajiban bagi seorang mukmin padanya, yaitu bersyukur. Dengan memanfaatkan segala kenikmatan tersebut untuk ketaatan kepada Allah sehingga dengan sikap syukur atas kenikamatan itu, menjadikan ia akan semakin dekat dengan Allah dan inilah orang yang beruntung dalam ujian jenis ini. Namun ada pula orang yang gagal dalam ujian jenis ini, yaitu orang yang dengan ujian ini justru semakin jauh dari Allah, yaitu ketika nikmat yang Allah berikan tersebut malah ia gunakan untuk durhaka dan maksiat kepada Allah, sehigga dengan nikmat tersebut ia justru semakin jauh dari Allah. Allah Ta`ala berfirman dalam surat Ibrahim (7):
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

2.Ujian dalam bentuk Musibah. Dalam ujian model ini, juga ada kewajiban seorang mukmin padanya yaitu bersabar. Ketika bersabar dalam keadaan ini, maka sikap yang muncul adalah upaya untuk terus mengintrospeksi dan mengoreksi diri (bertaubat) atas dosa-dosa yang ia lakukan, sehingga selain mendapatkan pahala, sikap sabar ini juga dapat menggugurkan dosa-dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam:
”seorang muslim tidak ditimpa oleh rasa letih,penyakit,gelisah, sedih, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri tertancap padanya melainkan Allah menebus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya.(HR.Bukhary & Muslim).
Maka dengan sikap sabar ini, ia akan semakin dekat kepada Allah dan inilah orang yang beruntung dalam ujian model ini. Namun ada pula orang yang gagal dalam ujian model ini, yaitu ketika ditimpa musibah ia tidak mau mengoreksi dirinya (bertaubat), dan justru mengeluh dan tidak ridha dengan ketentuan Allah tersebut. Ia merasa amalnya sudah baik semua dan dirinya bersih dari dosa, sehingga anggapannya itu menghambat dirinya dari upaya untuk taubat dan lebih dekat kepada Allah Ta`ala. Tentu sikap semacam ini tidak sesuai dengan tujuan Allah Ta`ala menurunkan musibah tersebut yaitu agar hambanya mau kembali (bertaubat) kepadaNya, sebagaimana yang Allah beritakan dalam surat Ar Ruum (41):
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Maka bagi seorang mukmin, kelezatan itu bukan hanya pada kenikmatan, tetapi juga ada pada musibah. Sebab dalam kenikmatan seorang mukmin itu berpeluang beruntung (berpahala) karena “syukurnya”, dan dalam musibah seorang mukmin juga berpeluang beruntung (berpahala) karena “sabarnya”. Oleh sebab itu Alhamdulillah, seorang mukmin itu selama ia hidup di dunia akan selalu beruntung, baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka, hingga maut memutus kehidupannya di dunia. Wallahu A`lamu Bishshawaab.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” Surat Al Anbiya` (35).

Pada ayat diatas Allah Ta`ala memberitakan bahwa selama kita masih hidup di dunia, pasti akan menemui tiga perkara yang sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah), yaitu:
1. Mati
2. Diuji dengan keburukan
3. Diuji dengan kebaikan

Sebelum sunnatullah yang dalam bentuk kematian datang memutus kehidupan seseorang didunia, maka ia akan terus ditimpa oleh dua sunnatullah yang lainnya secara silih berganti, yaitu ujian dalam betuk kebaikan dan ujian dalam bentuk keburukan (musibah).

Alhamdulillah, kita diwarisi oleh Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam Al Qur`an dan Assunnah sebagai sebagai pedoman hidup. Dimana dua pedoman hidup tersebut disusun langsung oleh sang pencipta kehidupan itu sendiri dan Dzat yang paling mengerti seluk beluk dan rahasia kehidupan yakni Allah Ta`ala melalui utusanNya Nabi Muhammad Shalallahu `Alayhi wa Sallam. Diantara kandungan Al Qur`an dan Assuunnah ini, terdapat sebuah pedoman yang akan membimbing siapapun orang yang mengimani keduanya (kaum mukminin) agar dalam setiap sunnatullah (musibah dan kesenangan) tersebut selalu dalam keadaan beruntung (berpahala). Dengan kata lain selama ia masih hidup di dunia ini, maka ia akan selalu beruntung baik ketika berhadapan dengan musibah atau dengan kesenangan. Oleh karena itu kita perlu mempelajari kembali Alqur`an dan Assunnah dalam masalah ini, agar kita dapat menyikapi setiap ujian-ujian tersebut dengan sikap yang tepat.
Suatu ketika Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap keadaan kaum mukminin.
Sebagaimana yang ditegaskan oleh beliau Shallallahu `Alalyhi Wasallam dalam sabdanya:

”Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat, ia bersikap sabar, maka itu menjadi baik baginya.”(HR.Muslim)

Dalam hadits diatas, Rasulullah Shalallahu `alayhi wasallam memberitakan bahwa bagi seorang mukmin, baik didalam kesenangan maupun musibah, tetap ada peluang untuk beruntung (berpahala).

1.Ujian dalam bentuk kebaikan. Dalam ujian model ini ada kewajiban bagi seorang mukmin padanya, yaitu bersyukur. Dengan memanfaatkan segala kenikmatan tersebut untuk ketaatan kepada Allah sehingga dengan sikap syukur atas kenikamatan itu, menjadikan ia akan semakin dekat dengan Allah dan inilah orang yang beruntung dalam ujian jenis ini. Namun ada pula orang yang gagal dalam ujian jenis ini, yaitu orang yang dengan ujian ini justru semakin jauh dari Allah, yaitu ketika nikmat yang Allah berikan tersebut malah ia gunakan untuk durhaka dan maksiat kepada Allah, sehigga dengan nikmat tersebut ia justru semakin jauh dari Allah. Allah Ta`ala berfirman dalam surat Ibrahim (7):
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

2.Ujian dalam bentuk Musibah. Dalam ujian model ini, juga ada kewajiban seorang mukmin padanya yaitu bersabar. Ketika bersabar dalam keadaan ini, maka sikap yang muncul adalah upaya untuk terus mengintrospeksi dan mengoreksi diri (bertaubat) atas dosa-dosa yang ia lakukan, sehingga selain mendapatkan pahala, sikap sabar ini juga dapat menggugurkan dosa-dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam:
”seorang muslim tidak ditimpa oleh rasa letih,penyakit,gelisah, sedih, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri tertancap padanya melainkan Allah menebus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya.(HR.Bukhary & Muslim).
Maka dengan sikap sabar ini, ia akan semakin dekat kepada Allah dan inilah orang yang beruntung dalam ujian model ini. Namun ada pula orang yang gagal dalam ujian model ini, yaitu ketika ditimpa musibah ia tidak mau mengoreksi dirinya (bertaubat), dan justru mengeluh dan tidak ridha dengan ketentuan Allah tersebut. Ia merasa amalnya sudah baik semua dan dirinya bersih dari dosa, sehingga anggapannya itu menghambat dirinya dari upaya untuk taubat dan lebih dekat kepada Allah Ta`ala. Tentu sikap semacam ini tidak sesuai dengan tujuan Allah Ta`ala menurunkan musibah tersebut yaitu agar hambanya mau kembali (bertaubat) kepadaNya, sebagaimana yang Allah beritakan dalam surat Ar Ruum (41):
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Maka bagi seorang mukmin, kelezatan itu bukan hanya pada kenikmatan, tetapi juga ada pada musibah. Sebab dalam kenikmatan seorang mukmin itu berpeluang beruntung (berpahala) karena “syukurnya”, dan dalam musibah seorang mukmin juga berpeluang beruntung (berpahala) karena “sabarnya”. Oleh sebab itu Alhamdulillah, seorang mukmin itu selama ia hidup di dunia akan selalu beruntung, baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka, hingga maut memutus kehidupannya di dunia. Wallahu A`lamu Bishshawaab.

Pesan sahabat

Pengalaman yang sangat berharga dalam perjalanan hidup ini adalah tentang suka dan dukanya.  Tanpa mereka (suka dan duka), kehidupan ini tidak akan berwarna, bahkan menjadi hampa saja.  Indahnya warna warni pengalaman itu terasa, bukan yang pernah aku alami saja.  Namun dari pengalaman orang lain, teman-teman dan sahabat, kiranya itu yang terbaik untuk menjadi pengalaman penting bagiku.  Pengalaman bahagia dan sengsaranya dalam berteman.  Hubungan persahabatan yang begitu dekat, hingga akhirnya menimbulkan masalah.  Sebenarnya, bukan sebuah hubungan yang menjadi masalah, tapi kembali lagi kepada diri kita masing-masing dalam menyikapi masalah tersebut.  Begitu pesanku pada sang sahabat, atas suka dan atau duka yang beliau rasakan.

***

Saat ada seorang sahabat lagi jatuh cinta, beliau begitu bahagia dalam menjalani hari-harinya.  Tiada hari tanpa senyuman, tiada hari tanpa berbagi cerita tentang perasaannya saat itu.  Aku yang mendengarkan, ikut berbahagia.  Hari-hariku pun penuh bunga-bunga indah, dan aku sangat menikmatinya.  Alhamdulillah….seakan aku yang sedang jatuh cinta saat itu. Upz…..! betapa indahnya   Begitulah dalam berteman, suka-suka bersama, tiada hari tanpa bahagia, selalu ada waktu untuk berbagi rasa, bercerita bagaikan kepada keluarga sendiri.  Semua terbuka saja, suka-suka kita.

Saat ada seorang sahabat yang sedang putus cinta, beliau begitu menderita dalam menjalani hari-harinya.  Tiada hari tanpa mengucurkan airmata sendu, sedih, berduka, tiada hari tanpa berbagi cerita tentang perasaannya saat itu.  Aku yang mendengarkan, ikut terharu.  Empati bermunculan, bertebaran di permukaan bumi ini.  Alhamdulillah, terima kasih duka…seakan aku yang sedang putus cinta saat itu.   Itulah indahnya berteman, duka bersama, selalu ada waktu untuk berbagi rasa.
Empati dan peduli dalam berteman, mengokohkan jalinan persahabatan kita.
Hingga saat ini, kita masih begitu, dan selamanya.

Namun, kadang suka dan duka itu datang beriringan.  Seperti saat ini, ada seorang teman yang sedang jatuh cinta, dan ternyata dalam waktu yang bersamaan, teman yang lain sedang patah hati, berduka di tinggal pacarnya.  Lalu aku jadi nya gimana?  Haruskah hatiku terbagi pula? untuk berduka dan bahagia dalam waktu yang sama? Oh tidak.  Aku tetaplah aku, yang bisa menjadi sahabat sejati.  Saat sahabat berduka, aku empati.  Saat sahabat bahagia, aku turut menikmati.  Intinya, tiada yang merasa dirugikan. Suka duka bersama… dan kita bahagia.

***

Olalaaa…….. baru saja ada pesan dari sahabatku yang sedang bahagia dan yang sedang berduka itu, aku diminta untuk menyampaikannya di sini, karena ini sebuah wasiat, maka atas nama persahabatan, aku berbagi:

“Wahai Saudara kami kaum laki-laki, kami perempuan juga punya perasaan.  Bahkan lebih banyak menggunakan perasaan dalam hari-hari kami.  Oleh karena itu, jangan biarkan kami dalam duka yang berkepanjangan, karena cinta semu itu.  Bantulah kami  untuk menghadapi duka yang pedih itu, dengan hati terbuka. Dan tolong pula doakan kami……., agar kami bisa menikmati indahnya rasa suka dengan sempurna.  Agar apa yang kami rasakan ini, tidak sia-sia.”

Terima kasih kami,
perempuan dalam suka, dan
perempuan dalam duka

Semoga sahabat-sahabatku yang saat ini berada dalam suasana berduka dan berbahagia, bisa melewati setiap suka dan dukanya dengan lapang dada, jiwa terbuka. Mampu untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang-orang yang telah dan sedang berbuat baik dan rela memaafkan setiap orang yang berbuat tidak baik pada beliau.

Aamin…

Bersama kita bisa!

•16 November 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini adalah sebuah peluang untuk tunjukkan apa yang bisa aku lakukan. Bukan hanya diam duduk tafakur dalam sepi yang menemani diri. Namun bisa melangkah lagi untuk menuju ke satu tujuan, cita-cita. Karena hari ini adalah sebuah kesempatan, maka tidaklah pantas untuk mementingkan diri sendiri, tanpa mempedulikan sekitar. Lebih peduli kepada oranglain dan mau mendengarkan apa yang mereka sampaikan, adalah salah satu cara untuk memanfaatkan peluang yang datang. Karena, yakin diriku, bahwa tiada satu hal pun yang hadir sia-sia tanpa makna.
Begitu pula akan hadirmu yang sebentar saja menghampiriku. Mampir dan menyapaku untuk menyampaikan keluhmu, menitipkan sebagian beban yang engkau pikul. Saat kita duduk bersama, perlahan-lahan engkau mulai menurunkan beban itu dari pundakmu. Lalu, engkau pun bercerita atas setiap beban yang engkau panggul, yang engkau rasa begitu berat dan sedikit demi sedikit, engkau bagikan padaku.
Aku menerimanya dengan senang hati. Karena aku menganggap bahwa beban yang engkau bagikan padaku itu, adalah rezekiku. Untuk sebuah rezeki yang aku terima, ku ucapkan terima kasih padamu. Dan rezeki itu tidak boleh di tolak (begitu pesan orang tua padaku, yang masih aku ingat sampai sekarang.)

Waktu terus berlalu, kita pun asyik menikmati menu yang ada. Walau terhidang seadanya, karena keterbatasanmu, keterbatasanku, dan kekurangan kita dalam menyusun kata. Namun aku yakin, beban itu masih tersisa padamu. Itu bisa aku lihat jelas dari gerak-gerikmu yang masih berat. Aku mengerti. Kita pun terus menyantap hidangan terlezat itu, sungguh nikmat, berbagi rasa. Lalu aku lihat ada bulir bening mengalir deras dari tatapanmu yang cemerlang itu. Aku tak menyangka, engkau sungguh terharu. Telah mampu lepaskan semua keluhmu. Sehingga setelah sekian waktu berlalu, sejak kita bersama dalam percakapan indah, engkaupun mulai bisa bernafas lagi. Gerakanmu terlihat lebih ringan seiring dengan munculnya senyum termanis dari bibirmu, yang terukir sangat rapi.
Aku tahu, engkau masih terlalu muda untuk memikul beban seperti itu. Namun yakinlah sahabat, telah terbuka sebuah jalan bagimu menjadi lebih dewasa. Karena sudah pasti, kelak engkaupun akan memikul beban yang sama, atau bahkan lebih berat lagi. Dicicil dari sekarang, is the best. Karena Dia Yang Maha Tahu, telah mengatur segalanya untukmu. Karena Ia sangat sayang padamu.

So, kembalilah tersenyum lebih indah……
Tunjukkan pada dunia, bahwa engkau masih bisa melangkah. Melangkahlah lebih ringan lagi. Tatap masa depan penuh inisiatif, dengan sikap optimis untuk menjadi lebih berprestasi.

Saat engkau merasakan kepenatan dalam perjalananmu, berpalinglah sejenak. Engkau akan melihat sesosok bayangan yang siap untuk membimbing tanganmu, mendukungmu untuk lebih bersemangat lagi.

Mari kita melangkah bersama, melanjutkan perjuangan ini.

Akulah insan itu,

•16 November 2009 • 3 Komentar

Dalam PERENUNGAN indahku, aku kembali teringat dengan kalimat-kalimat yang berseliweran di Fikiranku.
Kebahagiaan terindah ada bersama ketenangan hati.
Apa gunanya harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, dan ketenaran di mana-mana, apabila hati belum Menemukan ketenangannya.
Sungguh tiada akan ada artinya semua nikmat yang dimiliki.
Begitu pula dengan keluh kesah yang selalu Muncul di setiap waktu yang dimiliki.
Memang insan diciptakan dengan keluh kesahnya, karena kodrat Sebagai hambaNya yang diciptakan dengan keluh kesah.
Selalu ada keinginan untuk mendapatkan lebih banyak lagi dari yang sudah berada dalam Genggaman.
Setelah mendapatkan satu hal yang selama ini diangan-angankan, di lain waktu akan Muncul angan-angan baru, untuk segera di gapai.
Begitulah kehidupan insan, Beralih dari angan-angan angan-angan menuju yang lain.
Sehingga kadang insan lupa akan Keberadaan dirinya di dunia ini.
Karena sudah begitu tersibukkan dengan harapan-harapan itu
Bahagia tak bisa lagi ternikmati dengan baik, karena hari-harinya telah tersibukkan dengan angan-angan baru yang belum pasti bisa diperoleh.
Sedangkan hari ini yang seutuhnya telah menjadi miliknya, malah di sia-siakan tanpa mengisinya dengan hal yang berguna.
Wallaahu a’lam bish shawab ….
***
Eits … kalimat-kalimat ini Muncul begitu saja di memoriku, dan aku coba mengikatnya di sini, agar ia tidak hilang, pergi begitu saja.
Untuk kembali bisa dibaca oleh seorang aku, ya, diriku.
Sebagai Pengingat bagi aku yang masih sering tersibukkan dengan harapan-harapan itu.
Aku yang masih diliputi dan keluh kesah itu.
Aku yang masih sering lupa akan tujuan Kehidupanku.
Aku yang masih berupaya untuk menggapai ketenangan di hati.
Aku yang masih belajar tentang banyak hal, terutama bagaimana mensyukuri Nikmatnya melimpah yang begitu banyak padaku. Dan aku yang perlu belajar lebih banyak lagi tentang apapun itu.
Astaghfirullaahal’adziim
Akulah insan itu … ….
Astaghfirullaahal’adziim

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.