SYUKUR
Yakinku,
Wahai sahabat,
Saat kita masih bisa tersenyum bersama,
berkumpul bersama,
Saat kita selalu mencari dan mencuri kesempatan untuk bisa bertemu,
agar dapat tertawa bersama,
bercanda dan berbagi rasa,
untuk merasakan bahwa hidup ini adalah milik kita,
sedangkan mereka bukan siapa-siapa.
Kita tak memikirkan beban-beban kehidupan,
hari-hari ceria penuh senyuman,
tanpa himpitan.
Yang kita tahu hanya, membelanjakan setiap kiriman yang diberikan Ayah dan Bunda,
tanpa kita pernah tahu atau tak mau tahu sama sekali,
bagaimana orangtua berusaha mendapatkannya untuk kita……..
Sudahkah kita berterima kasih pada beliau?
Sudahkah kita bahagiakan beliau?
Sudahkah kita memberikan bukti atas pengorbanan beliau?
Sudahkah kita temui beliau untuk memberikan senyuman termanis dari bibir kita?
Sudahkah kita damaikan jiwa beliau dengan wajah ceria yang kita tunjuk ketika menjumpai beliau?
Adakah kita lakukan semua itu dengan senang hati?
Sudahkah kita mengirimkan doa-doa indah special untuk Ayah dan Bunda?
Karena bukan materi yang beliau minta,
tiada balasan yang beliau harap,
hanya beliau pinta,
jadilah anak soleh/solehah….
yang selalu mendoakan beliau,
hingga nanti beliau tiada lagi,
Kini, disaat kita telah berpisah,
mengharungi jalan hidup masing-masing,
Aku baru menyadari,
ternyata tak selamanya kita bersama,
ada waktunya kita berpisah,
melanjutkan langkah kaki sesuai petunjuk Ilahi,
untuk kita jalani.
Aku mulai menggerakkan kaki menyusuri jalan ini,
yang kadang mendaki, menurun, berkelok atau lurus (tanpa tikungan),
begitu pula dengan dirimu.
Wahai sahabat,
mari kita teruskan langkah ini,
walau berbeda jalan,
semoga nanti kita berjumpa di ujung pemberhentian,
dalam senyuman yang lebih ceria lagi,
dan masa-masa indah itu kan hadir kembali,
suatu hari nanti….
