Orang Bertakwa Tidak Pernah Merasa Miskin

•1 Juli 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

Adapun mengenai firman Allah Ta’ala,

{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rizki. Rizki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rizki yang dimaksud di sini adalah rizki dunia dan rizki akhirat.

Sebagian orang mengatakan, “Orang yang bertakwa itu tidak pernah merasa fakir sama sekali.” Lalu ada yang bertanya, “Mengapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Karena Allah Ta’ala berfirman:

{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”

Kemudian ada yang bertanya kembali, “Kami menyaksikan sendiri bahwa di antara orang yang bertakwa, ada yang tidak punya apa-apa. Namun memang ada sebagian lagi yang diberi banyak rizki.”

Jawabannya, ayat tersebut menunjukkan bahwa orang yang bertakwa akan diberi rizki dari jalan yang tak terduga. Namun ayat itu tidak menunjukkan bahwa orang yang tidak bertakwa tidak diberi rizki. Bahkan setiap makhluk akan diberi rizki sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (QS. Huud: 6). Bahkan hamba yang menerjang yang haram termasuk yang diberi rizki. Orang kafir tetap diberi rizki padahal rizki itu boleh jadi diperoleh dengan cara-cara yang haram, boleh jadi juga dengan cara yang baik, bahkan boleh jadi pula diperoleh dengan susah payah.

Sedangkan orang yang bertakwa, Allah memberi rizki pada mereka dari jalan yang tidak terduga. Rizkinya tidak mungkin diperoleh dengan cara-cara yang haram, juga tidak mungkin rizki mereka dari yang khobits (yang kotor-kotor). Perlu diketahui bahwa orang yang bertakwa tidak mungkin dihalangi dari rizki yang ia butuhkan. Ia hanyalah dihalangi dari materi dunia yang berlebih sebagai rahmat dan kebaikan padanya. Karena boleh jadi diluaskannya rizki malah akan membahayakan dirinya. Sedangkan disempitkannya rizki malah mungkin sebagai rahmat baginya. Namun beda halnya dengan keadaan manusia yang Allah ceritakan,

{ فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ } { وَأَمَّا إذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ } { كُلًّا }

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian).” (QS. Al Fajr: 15-16)

Senyatanya tidak demikian. Belum tentu orang yang diluaskan rizkinya, ia berarti dimuliakan. Sebaliknya orang yang disempitkan rizkinya, belum tentu ia dihinakan. Bahkan boleh jadi seseorang dilapangkan rizki baginya hanya sebagai istidroj (agar ia semakin terlena dengan maksiatnya). Begitu pula boleh jadi seseorang disempitkan rizkinya untuk melindungi dirinya dari bahaya. Sedangkan jika ada orang yang sholih yang disempitkan rizkinya, boleh jadi itu karena sebab dosa-dosa yang ia perbuat sebagaimana sebagian salaf mengatakan,

إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

Seorang hamba boleh jadi terhalang rizki untuknya karena dosa yang ia perbuat.

Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang memperbanyak beristighfar, maka Allah pasti akan selalu memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari segala kegundahan serta Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.”[1]

Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa kebaikan itu akan menghapus kejelekan, istighfar adalah sebab datangnya rizki dan berbagai kenikmatan, sedangkan maksiat adalah sebab datangnya musibah dan berbagai kesulitan. (Kita dapat menyaksikan hal tersebut dalam ayat-ayat berikut ini).

Allah Ta’ala berfirman,

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آَيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ (1) أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ (2) وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya, dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya” (QS. Huud: 1-3)

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

{ وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا } { لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ }

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya.” (QS. Al Jin: 16-17)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’rof: 96)

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka.” (QS. Al Maidah: 66)

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30)

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” (QS. Hud: 9)

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisa’: 79)

{ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ } { فَلَوْلَا إذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ }

Kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 42-43)

Allah Ta’ala telah mengabarkan dalam kitabnya bahwa Dia akan menguji hamba-Nya dengan kebaikan atau dengan kejelekan. Kebaikan yang dimaksud adalah nikmat dan kejelekan adalah musibah. Ujian ini dimaksudkan agar hamba tersebut teruji sebagai hamba yang bersabar dan bersyukur. Dalam hadits shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَقْضِي اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدِ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Allah tidaklah menetapkan bagi seorang mukmin suatu ketentuan melainkan itu baikk baginya. Hal ini tidaklah mungkin kita jumpai kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa suatu bahaya, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.

Demikian penjelasan dari Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Al Fatawa (16/52-54). Semoga bermanfaat dan dapat sebagai penyejuk hati yang sedang gundah.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Selamat Datang di Facebook

•30 April 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Selamat Datang di Facebook.

MENGAPA DO’A DI MULTAZAM BANYAK YANG TERKABUL ?

•10 April 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan mengupas tentang kemujaraban do’a di sekitar Ka’bah. Salah satu tempat yang mustajab untuk berdo’a ketika berada di sekitar Ka’bah adalah di Multazam Multazam adalah tempat antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Mengapa Multazam menjadi tempat yang mustajab untuk berdo’a ? Ada beberapa factor sehingga tempat itu menjadi mustajab antara lain : 1. FAKTOR NABI IBRAHIM. Beliau adalah orang yang membangun Ka’bah bersama anaknya Isma’il, mengapa ada pengaruhnya. Sebab Nabi Ibrahim adalah manusia yang punya energi positip yang luar biasa besarnya yang menular kepada karya-karyanya. Seperti dikatakan dalam firman Allah: ” Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi. (Shad: 45) Selain itu dikatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah Hamba yang lembut: “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah Karena suatu janji yang Telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat Lembut hatinya lagi Penyantun. (At Taubah: 114) Nabi Ibrahim adalah rasul yang punya kualitas kepasrahan dan keikhlasan yang sangat tinggi, sehingga dia punya pancaran energi yang luar biasa, Ka’bah adalah karya beliau, sehingga di dalam karya itu tersimpan energi nabi Ibrahim yang sangat besar. Apalagi Ka’bah selama bertahun-tahun telah menjadi pusat ibadah ummat manusia maka pancaran energinya semakin kuat, oleh karena itu bersdo’a di sekitar ka’bah sangat besar manfaatnya. Jiwa kita akan lebih Khusyu’, hati menjadi tenang dan focus pada saat berdo’a. Sering kali orang yang pertama kali melihat Ka’bah akan meneteskan airmatanya karena haru, hilang semua kesombongan dan keangkuhannya. Do’a orang yang demikian itulah yang akan didengar oleh Allah. “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[549]. [549] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta. (Al A’raf: 55) 2. FAKTOR HAJAR ASWAD Hajar Aswad artinya Batu Hitam, ia bertempat di lobang di salah satu sudut Ka’bah. Nabi Ibrahim diperintah untuk meninggikan dasar-dasar Ka’bah untuk menjadi pusat peribadatan. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al baqarah: 127) Apa pengaruhnya batu itu terhadap do’a yang kita panjatkan ? beberapa pengaruh itu antara lain: 1. Karena Hajar aswad adalah bagian dari karya nabi Ibrahim 2. Karena do’a yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim 3. Hajar Aswad menjadi pintu masuk dan keluarnya energi Ka’bah karena punya daya hantar elektromagnetik yang sangat tinggi. 4. Getaran/vibrasi gelombang do’a kita tertuju ke arah Hajar aswad sehingga ada kontak antara hati kita dengan system energi Ka’bah. 5. Tahun 1995 pernah terjadi Ka’bah tersambar petir. Mengapa buka gedung-2 tinggi yang punya penangkal petir, tetapi malah Ka’bah ? Sekali lagi yang perlu menjadi perhatian adalah ”Bukan batunya yang manjur tapi doa yang tulus dan ikhlas kepada Allah itu yang manjur”, seperti hadits: عَنْ عُمَرَ ر ع اَنَّهُ جَاءَ اِلَى الْحَجَرِ اْلاَسْوَادِ فَقَبَّلَهُ فَقَالَ إِنِّى اَعْلَمُ اَنَّكَ حَجَرُ لاَ تَضَرَّعُ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ اَنّى رَاَيْتُ النَّبِى صَلْعَمْ يُقَبِّلًكَ مَا قَبِّلْتُكَ (تواه الْبخارى) “Dari Umar r a bahwa sesungguhnya dia datang ke hajar aswad kemudian menciumnya sambil berkata : “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak mendatangkan madhorot atau manfaat, dan sekiranya aku tidak melihat nabi SAW mencium kamu maka aku tidak akan menciummu” HR Bukhori 3. FAKTOR ORANG BERTAWAF Orang bertawaf menyebabkan munculnya gelombang elektromagnetik, apa hubungannya dengan doa yang mustajab ? Setiap orang memancarkan gelombang elektromagnetik, terlebih ketika berdo’a maka dia memiliki kandungan energi yang besar. Kumpulan dari jutaan orang yang sedang bertawaf dan berdo’a mengelilingi ka’bah itu bagaikan pusaran energi yang luar biasa. Didalam ilmu Fisika ada ” Kaidah Tangan kanan” Yaitu: “Jika ada sebatang konduktor (logam) dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan arah dengan jarum jam, maka di konduktor itu akan muncul medan gelombang elektromagnetik yang mengarah ke atas“ Dalam kaidah Tangan kanan digambarkan dengan sebuah tangan yang menggenggam emat jari, dengan ibu jari mengarah ke atas. Dengan Kaidah Tangan Kanan ini secara kebetulan sama dengan orang bertawaf mengelilingi Ka’bah, arahnya juga berlawanan dengan jarum jam. Gelombang elektromagnetik yang sangat besar itu yang akan membantu kekuatan do’a orang-orang yang sedang bermunajat di sekitar Ka’bah, khususnya yang berada di dekat Hajar aswad alias Multazam. Logikanya seperti do’a yang menumpang pada pemancar radio. 4. FAKTOR KA’BAH SEBAGAI KIBLAT SHALAT Faktor yang semakin menguatkan do’a kita untuk terkabul adalah karena Ka’bah sebagai Kiblat sholat. Bisa kita bayangkan betapa Ka’bah betul-betul menjadi pusat gerakan sholat sepanjang waktu. Sholat itu sendiri gerakannya berputar 360 derajat, seperti orang sedang tawaf, setiap saat tidak henti-hentinya ada orang yang sholat menghadap ke Ka’bah. Betapa besar tegangan energi yang mengarah ke Ka’bah. 97. Allah Telah menjadikan Ka’bah, rumah Suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia[444], dan (demikian pula) bulan Haram[445], had-ya[446], qalaid[447]. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Maidah: 97) Ke empat faktor itu bukan satu-satunya sehingga setiap do’a pasti terkabul, namun secara kebetulan faktor itu yang mendukung mudahnya permohonan kita kepada Allah akan dapat terkabul, yang mengabulkan do’a adalah Allah semata, tempat dan waktu ketika kita memanjatkan do’a hanyalah sarana untuk memudahkannya, tetapi hak mengabulkan do’a hanya milik Allah. Karena Allah sendiri juga sudah berjanji dalam firmannya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.(Mukmin: 60) Semoga saudara-saudara yang sedang melaksanakan ibadah haji di Haramain pada saat ini akan terkabul do’anya sehingga haji menjadi haji yang mabrur. Sehingga dapat memberikan manfaat yang banyak bagi kemajuan bangsa ini. Amin

JENIS JENIS MALU

•24 Februari 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Jenis-Jenis Malu

Terdapat banyak jenis-jenis malu, diantaranya :

Malu kepada Allah,

Ketahuilah sesungguhnya celaan Allah itu diatas seluruh celaan. Dan pujian Allah subhanahu wata’ala itu diatas segala pujian. Orang yang tercela adalah orang yang dicela oleh Allah. Orang-orang yang terpuji adalah orang-orang yang dipuji oleh Allah. Maka haruslah lebih malu kepada Allah dari pada yang lain.

Malu kepada Allah adalah jalan untuk menegakkan segala bentuk Ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Karena jika seorang hamba takut di cela Allah, tentunya ia tidak akan menolak ketaatan dan tidak pula mendekati kemaksiatan. Oleh karena itulah malu merupakan sebagian dari iman.

Nabi shollallahu’alaihi wassallam bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallah (tiada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu termasuk salah satu cabang iman.”[1]

Malu kepada Manusia,

Termasuk jenis malu adalah malunya sebagian manusia kepda sebagian yang lain. Sebagaimana malunya seorang anak kepada orangtuanya, isteri kepada suaminya, orang bodoh kepada orang pandai, serta malunya seorang gadis untuk terang-terangan menyatakan ingin menikah.

“Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, bahwasannya ia berkata, ‘wahai Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam, sesungguhnya gadis itu malu. Maka Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Persetujuannya diketahui dari diamnya’”.

Malunya seseorang terhadap dirinya,

Dan ini salah satu bentuk malu yang di rasakan oleh jiwa yang terhormat, tinggi dan mulia, sehingga ia tidak puas dengan kekurangan , kerendahan dan kehinaan. Karena itu engkau akan menjumpai seseorang yang merasa malu kepada dirinya sendiri, seolah-olah di dalam raganya terdapat dua jiwa, yang satu merasa malu kepada yang lain.

Malu inilah yang paling sempurna karena jika pada dirinya sendiri saja sudah demikian malu, apalagi terhadap orang lain.

Keutamaan-Keutamaan Sifat Malu

Allah mencintai sifat malu,

“Sesungguhnya Allah adalah Maha Pemalu dan Maha Menutupi. Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan.”[2]

Malu adalah akhlaq Islam,

“Sesungguhnya setiap agama itu berakhlaq, Sedangkan akhlaq agama islam adalah malu.”[3]

Termasuk bagian dari iman,

Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu, bahwasannya Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam melewati seorang laki-laki dari sahabat Anshar sedang menasehati temannya tetang rasa malu. Lalu Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam bersabda, “Biarkan ia, sesungguhnya malu merupakan bagian dari iman”[4]

Sifat malu mendatangkan kebaikan,

“Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan”[5]

Sifat malu menghantarkan ke surga

“Malu itu bagian dari iman. Dan iman tempatnya di surga, sedangkan ucapan keji termasuk bagian dari tabiat kasar, tabiat kasar itu tempatnya di neraka.”[6]

MENDOAKAN ANAK

•25 Januari 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk dan patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami ummat yang tunduk patuh kepada Engkau.

“Ya Rabb ku, berilah untukku anak-anak yang shalih.

“Ya Rabb kum jadikanlah aku orang yang menegakkan sholat dan juga anak-anakku. Ya Rabb ku, terimalah doaku.

“Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala.”

Demikianlah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam yang diabadikan oleh Allah dalam kitab-Nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dalam banyak riwayat diceritakan bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam juga sering berdoa untuk anak-anak beliau dan untuk anak-anak kaum muslimin.

Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam pernah memegang Usamah bin Zaid dan Al Hasan bin Ali seraya berdoa, “Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya, maka cintailah mereka berdua.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga pernah berdoa untuk Usamah bin Zaid. Imam Ahmad (5/201) meriwayatkan dengan isnad yang hasan dari Usamah bin Zaid, dia berkata,

“Ketika penyakit Rasululullah Shallallahu alaihi wa sallam semakin parah, aku dan para sahabat berangkat ke kota madinah. Lalu aku masuk menemui rasululullah shallallahu alaihi wa sallam. Aku diam dan beliau tidak berbicara apa-apa. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya ke langit dan mengarahkan kepadaku. Aku tahu, beliau berdoa untukku.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga pernah berdoa untuk anak-anak Ja’far bin Abi Thalib.

“Ya Allah, berilah ganti kepada keluarga yang ditinggal (syahid) Ja’far dan berkahilah kekuatan (memukul) tangan kanan Abdullah bin Ja’far.”

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya (no.1982), bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mendoakan kebaikan dunia dan akhirat untuk Anas bin Malik, “Ya Allah, karuniakanlah harta dan anak kepadanya dan berkahilah dia.” (Lantaran doa itu, di kemudian hari), Anas bin Malik termasuk orang Anshar yang paling banyak memiliki harta.

Mereka, para nabi, manusia-manusia terbaik di dunia ini, berdoa untuk anak keturunan mereka, berdoa untuk anak-anak orang lain. Sudah kah kita juga senantiasa berdoa untuk anak keturunan kita?

‘Ya Rabb kami, berilah untuk kami dari istri dan anak-anak kami penyejuk pandangan mata dan jadikanlah kami pemimipin orang-orang bertakwa.

“Ya Rabb ku, tunjukkanlah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yag telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai. Berilah kepadaku kebaikan dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

“Ya Allah, mudahkanlah kami untuk selalu berdoa kepada Mu. Jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang sombong, orang-orang yang enggan berdoa kepada Mu.””

Saatnya Bertaubat Dari Zina

•9 Desember 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Maramis Setiawan 04 Desember jam 4:28 Balas
Tanggal 1 Desember yang lalu merupakan hari AIDS internasional yang katanya pada hari tersebut akan dijadikan sebagai sarana sebagai wujud keprihatinan terhadap wabah virus HIV/ AIDS yang tidak henti-hentinya yang melanda ummat di seluruh dunia ini. Namun, sangat disayangkan, salah satu sisi yang kami amati bahwa hari Aids ini seolah-olah hanya dijadikan ajang kampanye penggunaan kondom, dan bukan justru mengkampanyekan apa yang telah menjadi penyebab mewabahnya penyakit yang konon tidak ada obatnya ini. Yang kami maksud disini adalah salah satu penyebabnya, yaitu sex bebas atau dalam bahasa syariat disebut Zina. Oleh karena itu, sebagai wujud keprihatinan kami akan wabah AIDS ini maka kami mencoba menyajikan beberapa dampak-dampak akibat perbuatan zina ini dan seruan agar pelaku zina bertaubat kepada Allah azza wa jalla.

Semoga Allah melindungi diri kita dan keluarga kita dari penyakit ini dan dari kemaksiatan zina.

Kerusakan Yang Diakibatkan Zina
——————————————
Zina merupakan kerusakan besar, keburukan nyata, dan pengaruhnya begitu besar yang mengakibatkan berbagai kerusakan, baik terhadap orang yang melakukan maupun terhadap masyarakat secara umum.

Mengingat perbuatan zina ini sudah sering terjadi, demikian juga penyebabnya pun sudah tersebar dimana-mana, maka berikut ini kami akan berusaha menghadirkan beberapa dampak negatif dari perbuatan kotor ini, serta berbagai kemudharatan dan kerusakan yang diakibatkannya.

1. Dalam perbuatan zina tekumpul semua jenis keburukan, seperti lemahnya agama, hilangnya ketakwaan, hancurnya kesopanan, lenyapnya rasa cemburu, dan terkuburnya akhlak terpuji.

2. Perbuatan zina dapat membunuh rasa malu sehingga menjadikan seseorang tebal muka atau tidak tahu malu.

3. Perbuatan zina mempengaruhi keceriaan wajah sehingga menjadikannya kusam, kelam, dan tampak layu bagaikan orang yang mengalami kesedihan mendalam. Di samping itu, zina dapat memicu kebencian yang bisa disaksikan oleh orang yang melihatnya.

4. Perbuatan zina mengakibatkan kegelapan dan hilangnya cahaya hati.

5. Perbuatan zina menjatuhkan bahkan menghilangkan harga diri pelakunya, menjatuhkan derajatnya di hadapan sang Pencipta dan seluruh makhluk-Nya, serta menghilangkan sebutan hamba yang berbakti, ’afif (pemelihara kehormatan diri), dan orang yang adil. Bahkan sebaliknya, orang banyak akan menjulukinya sebagai hamba yang jahat, fasik, pelacur, dan pengkhianat.

6. Sifat liar yang dicampakkan Allah ke dalam hati pezina merupakan teman akrab yang tampak jelas pada wajah pelakunya. Pada wajah orang yang ‘afif akan terlihat keceriaan, pada hatinya terdapat keramahan, dan semua yang duduk bersamanya akan merasa senang, sedangkan pada wajah pezina malah terlihat sebaliknya.

7. Orang akan melihat seorang pezina dengan pandangan yang meragukan, penuh dengan khianat. Tidak ada seorang pun yang akan percaya tentang kehormatan yang diraihnya dan anak yang dimilikinya.

8. Bau busuk yang keluar dari tubuh seorang pezina dapat dicium oleh setiap orang yang berhati bersih dan selamat. Bau busuk tersebut berhembus dari mulut dan badannya.

9. Perbuatan zina akan mengakibatkan hati yang sempit dan perasaan tertindas. Para pezina akan diperlakukan dengan perlakuan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Siapa saja yang menginginkan kenikmatan hidup dengan keindahannya, tetapi ia meraihnya dengan cara bermaksiat kepada Allah, maka Allah pasti akan mengadzabnya dengan kebalikan apa yang diinginkannya. Sesungguhnya, semua kenikmatan yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan cara mentaati perintah-Nya. Allah sama sekali tidak pernah menjadikan suatu kemaksiatan sebagai penyebab untuk memperoleh kebaikan.

10. Orang yang melakukan perbuatan zina berarti telah mengharamkan dirinya untuk menikmati bidadari Surga di tempat-tempat indah dalam surga ’Adn

Selengkapnya di…
http://maramissetiawan.wordpress.com/2009/12/03/saatnya-bertaubat-dari-zina/

lagi nunggu apa boo.......

EMPAT JENIS FAEDAH

•1 Desember 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ikhwaanii wa Akhwaatii rahiimakumullah…
Berikut ini 4 jenis FAEDAH yang insyaAllah manfaat untuk kita ketahui bersama;

1. Faedah Pengalaman : Mengetahui zaman dan teman, mengerti pergolakan zaman, dan sabar atas semua ujian.

2. Faedah Seorang Penghasut : Propaganda dan promosi, penyebaran nila…i-nilai utama dan pengetahuan, serta pahala di sisi Allah swt bagi kita yang terkena hasutan.

3. Faedah Adanya Musuh : Hati-hati agar tidak melakukan kesalahan dan ketergelinciran, menjaga diri dan kesia-siaan, serta berkompetisi untuk melakukan kebaikan.

4. Faedah Berpikir : Menghancurkan jiwa, menghilangkan ujub, membunuh ketakaburan, tenang bersama dengan Allah, meringankan hitungan amal di hari Kiamat, mengurangi kebiasaan ikut-ikutan, dan mencegah tindakan di luar batas.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. al-Anfaal {8}:27)

Subhanallah, semoga keterangan singkat dari faedah-faedah di atas dapat kita jadikan sebagai bentuk panduan yang mungkin sempat terlupakan selama ini, wallahua’lam bis-shawab.

Billahi taufik wal hidayah
Wassalam
Muhammad Dive.

SYUKUR

•30 November 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Yakinku,

Wahai sahabat,
Saat kita masih bisa tersenyum bersama,
berkumpul bersama,
Saat kita selalu mencari dan mencuri kesempatan untuk bisa bertemu,
agar dapat tertawa bersama,
bercanda dan berbagi rasa,
untuk merasakan bahwa hidup ini adalah milik kita,
sedangkan mereka bukan siapa-siapa.

Kita tak memikirkan beban-beban kehidupan,
hari-hari ceria penuh senyuman,
tanpa himpitan.

Yang kita tahu hanya, membelanjakan setiap kiriman yang diberikan Ayah dan Bunda,
tanpa kita pernah tahu atau tak mau tahu sama sekali,
bagaimana orangtua berusaha mendapatkannya untuk kita……..

Sudahkah kita berterima kasih pada beliau?

Sudahkah kita bahagiakan beliau?

Sudahkah kita memberikan bukti atas pengorbanan beliau?

Sudahkah kita temui beliau untuk memberikan senyuman termanis dari bibir kita?

Sudahkah kita damaikan jiwa beliau dengan wajah ceria yang kita tunjuk ketika menjumpai beliau?

Adakah kita lakukan semua itu dengan senang hati?

Sudahkah kita mengirimkan doa-doa indah special untuk Ayah dan Bunda?

Karena bukan materi yang beliau minta,

tiada balasan yang beliau harap,

hanya beliau pinta,

jadilah anak soleh/solehah….

yang selalu mendoakan beliau,

hingga nanti beliau tiada lagi,

Kini, disaat kita telah berpisah,
mengharungi jalan hidup masing-masing,

Aku baru menyadari,
ternyata tak selamanya kita bersama,
ada waktunya kita berpisah,
melanjutkan langkah kaki sesuai petunjuk Ilahi,
untuk kita jalani.

Aku mulai menggerakkan kaki menyusuri jalan ini,
yang kadang mendaki, menurun, berkelok atau lurus (tanpa tikungan),
begitu pula dengan dirimu.

Wahai sahabat,
mari kita teruskan langkah ini,
walau  berbeda jalan,
semoga nanti kita berjumpa di ujung pemberhentian,
dalam senyuman yang lebih ceria lagi,
dan masa-masa indah itu kan hadir kembali,
suatu hari nanti….

TIAP-TIAP YANG BERJIWA AKAN MERASAKAN MATI.

•22 November 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

kepala apa ini.....?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” Surat Al Anbiya` (35).

Pada ayat diatas Allah Ta`ala memberitakan bahwa selama kita masih hidup di dunia, pasti akan menemui tiga perkara yang sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah), yaitu:
1. Mati
2. Diuji dengan keburukan
3. Diuji dengan kebaikan

Sebelum sunnatullah yang dalam bentuk kematian datang memutus kehidupan seseorang didunia, maka ia akan terus ditimpa oleh dua sunnatullah yang lainnya secara silih berganti, yaitu ujian dalam betuk kebaikan dan ujian dalam bentuk keburukan (musibah).

Alhamdulillah, kita diwarisi oleh Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam Al Qur`an dan Assunnah sebagai sebagai pedoman hidup. Dimana dua pedoman hidup tersebut disusun langsung oleh sang pencipta kehidupan itu sendiri dan Dzat yang paling mengerti seluk beluk dan rahasia kehidupan yakni Allah Ta`ala melalui utusanNya Nabi Muhammad Shalallahu `Alayhi wa Sallam. Diantara kandungan Al Qur`an dan Assuunnah ini, terdapat sebuah pedoman yang akan membimbing siapapun orang yang mengimani keduanya (kaum mukminin) agar dalam setiap sunnatullah (musibah dan kesenangan) tersebut selalu dalam keadaan beruntung (berpahala). Dengan kata lain selama ia masih hidup di dunia ini, maka ia akan selalu beruntung baik ketika berhadapan dengan musibah atau dengan kesenangan. Oleh karena itu kita perlu mempelajari kembali Alqur`an dan Assunnah dalam masalah ini, agar kita dapat menyikapi setiap ujian-ujian tersebut dengan sikap yang tepat.
Suatu ketika Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap keadaan kaum mukminin.
Sebagaimana yang ditegaskan oleh beliau Shallallahu `Alalyhi Wasallam dalam sabdanya:

”Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat, ia bersikap sabar, maka itu menjadi baik baginya.”(HR.Muslim)

Dalam hadits diatas, Rasulullah Shalallahu `alayhi wasallam memberitakan bahwa bagi seorang mukmin, baik didalam kesenangan maupun musibah, tetap ada peluang untuk beruntung (berpahala).

1.Ujian dalam bentuk kebaikan. Dalam ujian model ini ada kewajiban bagi seorang mukmin padanya, yaitu bersyukur. Dengan memanfaatkan segala kenikmatan tersebut untuk ketaatan kepada Allah sehingga dengan sikap syukur atas kenikamatan itu, menjadikan ia akan semakin dekat dengan Allah dan inilah orang yang beruntung dalam ujian jenis ini. Namun ada pula orang yang gagal dalam ujian jenis ini, yaitu orang yang dengan ujian ini justru semakin jauh dari Allah, yaitu ketika nikmat yang Allah berikan tersebut malah ia gunakan untuk durhaka dan maksiat kepada Allah, sehigga dengan nikmat tersebut ia justru semakin jauh dari Allah. Allah Ta`ala berfirman dalam surat Ibrahim (7):
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

2.Ujian dalam bentuk Musibah. Dalam ujian model ini, juga ada kewajiban seorang mukmin padanya yaitu bersabar. Ketika bersabar dalam keadaan ini, maka sikap yang muncul adalah upaya untuk terus mengintrospeksi dan mengoreksi diri (bertaubat) atas dosa-dosa yang ia lakukan, sehingga selain mendapatkan pahala, sikap sabar ini juga dapat menggugurkan dosa-dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam:
”seorang muslim tidak ditimpa oleh rasa letih,penyakit,gelisah, sedih, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri tertancap padanya melainkan Allah menebus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya.(HR.Bukhary & Muslim).
Maka dengan sikap sabar ini, ia akan semakin dekat kepada Allah dan inilah orang yang beruntung dalam ujian model ini. Namun ada pula orang yang gagal dalam ujian model ini, yaitu ketika ditimpa musibah ia tidak mau mengoreksi dirinya (bertaubat), dan justru mengeluh dan tidak ridha dengan ketentuan Allah tersebut. Ia merasa amalnya sudah baik semua dan dirinya bersih dari dosa, sehingga anggapannya itu menghambat dirinya dari upaya untuk taubat dan lebih dekat kepada Allah Ta`ala. Tentu sikap semacam ini tidak sesuai dengan tujuan Allah Ta`ala menurunkan musibah tersebut yaitu agar hambanya mau kembali (bertaubat) kepadaNya, sebagaimana yang Allah beritakan dalam surat Ar Ruum (41):
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Maka bagi seorang mukmin, kelezatan itu bukan hanya pada kenikmatan, tetapi juga ada pada musibah. Sebab dalam kenikmatan seorang mukmin itu berpeluang beruntung (berpahala) karena “syukurnya”, dan dalam musibah seorang mukmin juga berpeluang beruntung (berpahala) karena “sabarnya”. Oleh sebab itu Alhamdulillah, seorang mukmin itu selama ia hidup di dunia akan selalu beruntung, baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka, hingga maut memutus kehidupannya di dunia. Wallahu A`lamu Bishshawaab.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” Surat Al Anbiya` (35).

Pada ayat diatas Allah Ta`ala memberitakan bahwa selama kita masih hidup di dunia, pasti akan menemui tiga perkara yang sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah), yaitu:
1. Mati
2. Diuji dengan keburukan
3. Diuji dengan kebaikan

Sebelum sunnatullah yang dalam bentuk kematian datang memutus kehidupan seseorang didunia, maka ia akan terus ditimpa oleh dua sunnatullah yang lainnya secara silih berganti, yaitu ujian dalam betuk kebaikan dan ujian dalam bentuk keburukan (musibah).

Alhamdulillah, kita diwarisi oleh Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam Al Qur`an dan Assunnah sebagai sebagai pedoman hidup. Dimana dua pedoman hidup tersebut disusun langsung oleh sang pencipta kehidupan itu sendiri dan Dzat yang paling mengerti seluk beluk dan rahasia kehidupan yakni Allah Ta`ala melalui utusanNya Nabi Muhammad Shalallahu `Alayhi wa Sallam. Diantara kandungan Al Qur`an dan Assuunnah ini, terdapat sebuah pedoman yang akan membimbing siapapun orang yang mengimani keduanya (kaum mukminin) agar dalam setiap sunnatullah (musibah dan kesenangan) tersebut selalu dalam keadaan beruntung (berpahala). Dengan kata lain selama ia masih hidup di dunia ini, maka ia akan selalu beruntung baik ketika berhadapan dengan musibah atau dengan kesenangan. Oleh karena itu kita perlu mempelajari kembali Alqur`an dan Assunnah dalam masalah ini, agar kita dapat menyikapi setiap ujian-ujian tersebut dengan sikap yang tepat.
Suatu ketika Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap keadaan kaum mukminin.
Sebagaimana yang ditegaskan oleh beliau Shallallahu `Alalyhi Wasallam dalam sabdanya:

”Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat, ia bersikap sabar, maka itu menjadi baik baginya.”(HR.Muslim)

Dalam hadits diatas, Rasulullah Shalallahu `alayhi wasallam memberitakan bahwa bagi seorang mukmin, baik didalam kesenangan maupun musibah, tetap ada peluang untuk beruntung (berpahala).

1.Ujian dalam bentuk kebaikan. Dalam ujian model ini ada kewajiban bagi seorang mukmin padanya, yaitu bersyukur. Dengan memanfaatkan segala kenikmatan tersebut untuk ketaatan kepada Allah sehingga dengan sikap syukur atas kenikamatan itu, menjadikan ia akan semakin dekat dengan Allah dan inilah orang yang beruntung dalam ujian jenis ini. Namun ada pula orang yang gagal dalam ujian jenis ini, yaitu orang yang dengan ujian ini justru semakin jauh dari Allah, yaitu ketika nikmat yang Allah berikan tersebut malah ia gunakan untuk durhaka dan maksiat kepada Allah, sehigga dengan nikmat tersebut ia justru semakin jauh dari Allah. Allah Ta`ala berfirman dalam surat Ibrahim (7):
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

2.Ujian dalam bentuk Musibah. Dalam ujian model ini, juga ada kewajiban seorang mukmin padanya yaitu bersabar. Ketika bersabar dalam keadaan ini, maka sikap yang muncul adalah upaya untuk terus mengintrospeksi dan mengoreksi diri (bertaubat) atas dosa-dosa yang ia lakukan, sehingga selain mendapatkan pahala, sikap sabar ini juga dapat menggugurkan dosa-dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam:
”seorang muslim tidak ditimpa oleh rasa letih,penyakit,gelisah, sedih, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri tertancap padanya melainkan Allah menebus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya.(HR.Bukhary & Muslim).
Maka dengan sikap sabar ini, ia akan semakin dekat kepada Allah dan inilah orang yang beruntung dalam ujian model ini. Namun ada pula orang yang gagal dalam ujian model ini, yaitu ketika ditimpa musibah ia tidak mau mengoreksi dirinya (bertaubat), dan justru mengeluh dan tidak ridha dengan ketentuan Allah tersebut. Ia merasa amalnya sudah baik semua dan dirinya bersih dari dosa, sehingga anggapannya itu menghambat dirinya dari upaya untuk taubat dan lebih dekat kepada Allah Ta`ala. Tentu sikap semacam ini tidak sesuai dengan tujuan Allah Ta`ala menurunkan musibah tersebut yaitu agar hambanya mau kembali (bertaubat) kepadaNya, sebagaimana yang Allah beritakan dalam surat Ar Ruum (41):
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Maka bagi seorang mukmin, kelezatan itu bukan hanya pada kenikmatan, tetapi juga ada pada musibah. Sebab dalam kenikmatan seorang mukmin itu berpeluang beruntung (berpahala) karena “syukurnya”, dan dalam musibah seorang mukmin juga berpeluang beruntung (berpahala) karena “sabarnya”. Oleh sebab itu Alhamdulillah, seorang mukmin itu selama ia hidup di dunia akan selalu beruntung, baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka, hingga maut memutus kehidupannya di dunia. Wallahu A`lamu Bishshawaab.

Pesan sahabat

Pengalaman yang sangat berharga dalam perjalanan hidup ini adalah tentang suka dan dukanya.  Tanpa mereka (suka dan duka), kehidupan ini tidak akan berwarna, bahkan menjadi hampa saja.  Indahnya warna warni pengalaman itu terasa, bukan yang pernah aku alami saja.  Namun dari pengalaman orang lain, teman-teman dan sahabat, kiranya itu yang terbaik untuk menjadi pengalaman penting bagiku.  Pengalaman bahagia dan sengsaranya dalam berteman.  Hubungan persahabatan yang begitu dekat, hingga akhirnya menimbulkan masalah.  Sebenarnya, bukan sebuah hubungan yang menjadi masalah, tapi kembali lagi kepada diri kita masing-masing dalam menyikapi masalah tersebut.  Begitu pesanku pada sang sahabat, atas suka dan atau duka yang beliau rasakan.

***

Saat ada seorang sahabat lagi jatuh cinta, beliau begitu bahagia dalam menjalani hari-harinya.  Tiada hari tanpa senyuman, tiada hari tanpa berbagi cerita tentang perasaannya saat itu.  Aku yang mendengarkan, ikut berbahagia.  Hari-hariku pun penuh bunga-bunga indah, dan aku sangat menikmatinya.  Alhamdulillah….seakan aku yang sedang jatuh cinta saat itu. Upz…..! betapa indahnya   Begitulah dalam berteman, suka-suka bersama, tiada hari tanpa bahagia, selalu ada waktu untuk berbagi rasa, bercerita bagaikan kepada keluarga sendiri.  Semua terbuka saja, suka-suka kita.

Saat ada seorang sahabat yang sedang putus cinta, beliau begitu menderita dalam menjalani hari-harinya.  Tiada hari tanpa mengucurkan airmata sendu, sedih, berduka, tiada hari tanpa berbagi cerita tentang perasaannya saat itu.  Aku yang mendengarkan, ikut terharu.  Empati bermunculan, bertebaran di permukaan bumi ini.  Alhamdulillah, terima kasih duka…seakan aku yang sedang putus cinta saat itu.   Itulah indahnya berteman, duka bersama, selalu ada waktu untuk berbagi rasa.
Empati dan peduli dalam berteman, mengokohkan jalinan persahabatan kita.
Hingga saat ini, kita masih begitu, dan selamanya.

Namun, kadang suka dan duka itu datang beriringan.  Seperti saat ini, ada seorang teman yang sedang jatuh cinta, dan ternyata dalam waktu yang bersamaan, teman yang lain sedang patah hati, berduka di tinggal pacarnya.  Lalu aku jadi nya gimana?  Haruskah hatiku terbagi pula? untuk berduka dan bahagia dalam waktu yang sama? Oh tidak.  Aku tetaplah aku, yang bisa menjadi sahabat sejati.  Saat sahabat berduka, aku empati.  Saat sahabat bahagia, aku turut menikmati.  Intinya, tiada yang merasa dirugikan. Suka duka bersama… dan kita bahagia.

***

Olalaaa…….. baru saja ada pesan dari sahabatku yang sedang bahagia dan yang sedang berduka itu, aku diminta untuk menyampaikannya di sini, karena ini sebuah wasiat, maka atas nama persahabatan, aku berbagi:

“Wahai Saudara kami kaum laki-laki, kami perempuan juga punya perasaan.  Bahkan lebih banyak menggunakan perasaan dalam hari-hari kami.  Oleh karena itu, jangan biarkan kami dalam duka yang berkepanjangan, karena cinta semu itu.  Bantulah kami  untuk menghadapi duka yang pedih itu, dengan hati terbuka. Dan tolong pula doakan kami……., agar kami bisa menikmati indahnya rasa suka dengan sempurna.  Agar apa yang kami rasakan ini, tidak sia-sia.”

Terima kasih kami,
perempuan dalam suka, dan
perempuan dalam duka

Semoga sahabat-sahabatku yang saat ini berada dalam suasana berduka dan berbahagia, bisa melewati setiap suka dan dukanya dengan lapang dada, jiwa terbuka. Mampu untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang-orang yang telah dan sedang berbuat baik dan rela memaafkan setiap orang yang berbuat tidak baik pada beliau.

Aamin…

Bersama kita bisa!

•16 November 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini adalah sebuah peluang untuk tunjukkan apa yang bisa aku lakukan. Bukan hanya diam duduk tafakur dalam sepi yang menemani diri. Namun bisa melangkah lagi untuk menuju ke satu tujuan, cita-cita. Karena hari ini adalah sebuah kesempatan, maka tidaklah pantas untuk mementingkan diri sendiri, tanpa mempedulikan sekitar. Lebih peduli kepada oranglain dan mau mendengarkan apa yang mereka sampaikan, adalah salah satu cara untuk memanfaatkan peluang yang datang. Karena, yakin diriku, bahwa tiada satu hal pun yang hadir sia-sia tanpa makna.
Begitu pula akan hadirmu yang sebentar saja menghampiriku. Mampir dan menyapaku untuk menyampaikan keluhmu, menitipkan sebagian beban yang engkau pikul. Saat kita duduk bersama, perlahan-lahan engkau mulai menurunkan beban itu dari pundakmu. Lalu, engkau pun bercerita atas setiap beban yang engkau panggul, yang engkau rasa begitu berat dan sedikit demi sedikit, engkau bagikan padaku.
Aku menerimanya dengan senang hati. Karena aku menganggap bahwa beban yang engkau bagikan padaku itu, adalah rezekiku. Untuk sebuah rezeki yang aku terima, ku ucapkan terima kasih padamu. Dan rezeki itu tidak boleh di tolak (begitu pesan orang tua padaku, yang masih aku ingat sampai sekarang.)

Waktu terus berlalu, kita pun asyik menikmati menu yang ada. Walau terhidang seadanya, karena keterbatasanmu, keterbatasanku, dan kekurangan kita dalam menyusun kata. Namun aku yakin, beban itu masih tersisa padamu. Itu bisa aku lihat jelas dari gerak-gerikmu yang masih berat. Aku mengerti. Kita pun terus menyantap hidangan terlezat itu, sungguh nikmat, berbagi rasa. Lalu aku lihat ada bulir bening mengalir deras dari tatapanmu yang cemerlang itu. Aku tak menyangka, engkau sungguh terharu. Telah mampu lepaskan semua keluhmu. Sehingga setelah sekian waktu berlalu, sejak kita bersama dalam percakapan indah, engkaupun mulai bisa bernafas lagi. Gerakanmu terlihat lebih ringan seiring dengan munculnya senyum termanis dari bibirmu, yang terukir sangat rapi.
Aku tahu, engkau masih terlalu muda untuk memikul beban seperti itu. Namun yakinlah sahabat, telah terbuka sebuah jalan bagimu menjadi lebih dewasa. Karena sudah pasti, kelak engkaupun akan memikul beban yang sama, atau bahkan lebih berat lagi. Dicicil dari sekarang, is the best. Karena Dia Yang Maha Tahu, telah mengatur segalanya untukmu. Karena Ia sangat sayang padamu.

So, kembalilah tersenyum lebih indah……
Tunjukkan pada dunia, bahwa engkau masih bisa melangkah. Melangkahlah lebih ringan lagi. Tatap masa depan penuh inisiatif, dengan sikap optimis untuk menjadi lebih berprestasi.

Saat engkau merasakan kepenatan dalam perjalananmu, berpalinglah sejenak. Engkau akan melihat sesosok bayangan yang siap untuk membimbing tanganmu, mendukungmu untuk lebih bersemangat lagi.

Mari kita melangkah bersama, melanjutkan perjuangan ini.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.